• Satu Jam Ngobrol Tentang Ambon, Pandangan Saya Ternyata Salah

    Sampai sekarang, saya masih agak terheran-heran dengan perkenalan saya dengan Evan (Ambon), Andi (Papua) dan teman-temannnya. Saya saat itu bersama @jillyratria berniat ke indomaret sebagai tempat nongkrong yang murah (ada colokan listrik dan bisa mesen banyak makanan - lha iya tinggal beli di indomaret kok). Saat kami sampai di indomaret, ada dua meja, ada satu meja yang kosong dan meja yang satunya sudah diisi evan dan teman-temannya. Evan dan teman-temannya semuanya adalah orang bagian timur, ada ambon, papua, NTT dan lain-lainya. Sempat agak takut juga sih (ngaku nih) kalo kenapa-kenapa bisa gawat nih, tapi ya sudahlah, kita ga niat aneh-anek kok. Akhirnya kita beli makanan dulu di indomaret dan akhirnya nongkrong juga disamping evan dan teman-temannya. Kondisi saat itu sedikit rame karena mereka sedang ngobrol dan membawa speaker aktif macam simbadda(buset). Tapi itu nggak jadi masalah buat saya, toh saya juga tidak sedang membutuhkan konsentrasi malam itu.



    Selang beberapa menit datanglah evan, sempat heran juga sama kedatangan evan, but saya sih welcome aja dan sedikit ngobrol ngalor ngidul. Dan ternyata si evan anak 2011, wah kebeneran bangt tu. Evan yang sangat ramah membuat bahwa anggapan saya salah tentang mereka salah, saya pikir mereka selalu keras, dan ternyata evan bisa bercanda dengan saya.  Intinya nyambung lah.

    Evan mulai menceritakan bagaimana kulture di ambon, dan herannya lagi evan berkali-kali minta maaf gara-gara gaya bicaranya yang keras (loudly), itu bukan karena marah, tepi ternyata memang karena kebiasaan mereka seperti itu (baru tau). Evan juga sempat memintaa maaf saat menceritakan tentang 'babi' karena saya seorang muslim. Semakin tertarik dengan obrolan evan, saya sampai tidak memegang leptop sama sekali. Jujur saya memang baru kali ini berkenalan langsung dengan orang ambon dan papua. Evan bercerita bagaimana dia sangat susah adaptasi dengan kehidupan jawa yang dia katakan halus dan lembut dengan kehidupan di tempat dia berada yang sangat keras (bukan saya yang ngomong lho, tapi dia :D).  Dan satu juga cita-cita dia, dia pengen punya istri orang jawa.

    Dia dulu sering ikut tawuran sejak SMP, dan bisa dikatakan, disana tawuran bukan hal yang aneh dan malah sering terjadi(wow). Saling serang, tikam, itu biasa. Tikam harus balas tikam, pukul harus bales pukul, itu sudah menjadi kultur disana (evan said). Dan evan bercerita bagaimana disana dia bisa habis 200rb untuk makan dalam sehari, (what? saya makan rp.7500 bisa untuk 2 orang :D, brrti sehari tidak sampai 25ribu untuk 2 orang :D). Dan di sana, mabuk bukan menjadi hal yang aneh, mabuk itu kayak kalo disini minum sprite saja :D

    Ada banyak hal lain yang diceritakan dan bisa saya ambil hikmahnya. Dan saya salut dengan keramahan mereka (evan dan temannya). Semua yang saya rasakan malam itu memecah pemikiran saya sendiri tentang bayangan orang timur yang 'menakutkan' dan keras. Dan mereka adalah teman yang enak diajak ngobrol kok. Salut buat evan dan teman-temannnya yang sudha jauh-jauh kuliah ke jogja. Dan mereka-merekalah yang nantinya akan membangun daerah mereka menjadi tidak sekeras sekarang, menjadi lebih damai dari sekarang, dan makanannya lebih murah daripada sekrang :D.

    Sekian cerita saya malam ini, sangat senang berkenalan dengan sahabat baru dari timur. semoga bermanfaat :)

    Share/Save

    Comments

    Evan itu angkatan 2011 syaang :)

    heheh.. iya, udah diedit tu :p

    Add new comment

    Plain text

    • No HTML tags allowed.
    • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
    • Lines and paragraphs break automatically.
    Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
    Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.